Hidayah AADC Tiba di Awal November
Rangga : Lalu?
Cinta : Lalu…
Rangga : Kok senyum?
Cinta : Lalu apa?
Rangga : Yaudah itu aja, makasih ya.
Cinta : Hey! Kamu itu kalau lagi kebingungan
lebih nyenengin ya. Kamu bingung aja terus
Rangga : Kamu? Iya kamu. Biasanya kan ngomongnya
lo, gue.
Cinta : Bahas terus. Ngomong-ngomong dulu
belinya dimana?
Rangga : Di toko loak. Kalau
cari di toko besar udah gak ada.
JURNALISMAGANG – Itu menjadi percakapan pertama antara Cinta
(Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra) dengan kepala dingin. Ditambah
senyum tipis-tipis malu dan canggung. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Begitu
pula dengan, tidak ada kata terlambat untuk menonton Ada Apa Dengan Cinta?
(AADC) di tahun 2019. Ya, meski rentang waktu rilis dengan menonton jauh
sekali. Aku mengakui, bahwa hidayah untuk menonton AADC baru datang di awal
bulan November 2019.
Sebelumnya aku sama sekali tidak, bukan tidak tertarik. Hmm, lebih
tepatnya belum memiliki perhatian lebih kepada film satu ini. Lantas, di suatu
malam, ketika aku sedang suntuk mempersiapkan diri untuk menulis berita
majalah, membaca ulang transkrip dan data. Aku sembarang menonton video di Youtube.
Lalu, di sudut pojok kanan terlihat sebuah video dengan judul “Line AADC 2014: Mini
Drama.” Seperti sengaja video itu mencuri perhatianku.
Tangkas saja aku langsung klik, lalu menontonnya. Disitulah, aku
merasa penasaran bagaimana jalan cerita AADC. Aku lalu membuka sebuah laman baru.
Sebuah web langgananku untuk mengunduh film-film bajakan. Tanpa berpikir dua
kali, aku langsung mengunduh AADC rilisan 2002 dan 2016. Jujur, aku tipe orang
yang mengunduh dulu sebuah film, entah kapan aku akan menontonnya, aku pun
tidak tau. Hal itu terbukti, banyak film-film yang sudah kuunduh, tapi sampai
tulisan ini kumuat belum juga aku tonton.
Selepas mengunduh, aku memilih satu film lainnya untuk kusimpan. Di
sela-sela mengunduh, aku sambil membaca ulang data transkrip yang akan aku masukkan
nanti ke dalam tulisan beritaku. Keesokan harinya, senin malam. Aku belum
memiliki minat yang cukup untuk memulai tulisanku, bahkan satu kata pun tak
kunjung dapat. Aku lalu memutuskan untuk menonton sebagai refreshing,
esoknya pun aku masuk siang.
Jariku gemas, mataku gundah, pikiranku saling bertubrukan. Belasan film
yang belum kutonton cukup bagiku untuk memikirkannya. Aku sempat memilih sebuah
film barat, The Theory of Everything. Namun, aku menyadari bahwa film
tersebut belum kumiliki subtitlenya. Entah kenapa pilihanku terpeleset ke AADC.
Dan, setelah film itu mulai, aku memakai headset-ku ke telinga. Mengabaikan
suara-suara dari luar, menomor sekiankan handphone-sebab kulihat ada
beberapa notifikasi yang masuk- menyamankan tempat duduk, dan aku terlena
dengan kisah Cinta dan Rangga.
Menonton film dengan latar tahun 2002, bagiku hal yang unik dan
menarik. Seperti kembali ke masa lalu, aku diperlihatkan kebiasaan-kebiasaan
lama yang sudah jarang atau bahkan sudah tidak digunakan sama sekali lagi sekarang.
Majalah dinding (mading), buku curhat, surat-menyurat, telepon rumah, dan
sebagianya. Aku bahkan tersenyum sendiri melihat adegan ketika Cinta menulis
surat kepada Rangga dengan wajah masam, kesal, bercampur aduk. Salah, ia
meremasinya, mengambil kertas yang baru.
Salah, ia lalu meremasinya lagi, membuangnya ke sembarang tempat. Lantas
mengambil kertas baru lalu menulisnya sambil memperlihatkan ekspresi seperti ketika ia
berbicara. Padahal ia sedang menulis. Bukan hanya karena aku laki-laki, masa-masa
SMA ku tidak ada lagi yang namanya surat-menyurat. Bahkan ketika masih SD pun,
ketika beberapa temanku sudah ada yang menulis surat ke wanita yang ia sukai,
aku masih sibuk dengan masa kecilku seperti bermain polisi-penjahat, petak
umpet, dan sebagainya.
Aku ingin kembali ke masa itu. Dimana mengirimkan surat merupakan
hal yang, wauw, aku tidak bisa menjelaskannya hanya dengan kata-kata. Apaansih
aku. Inti yang ingin aku sampaikan pada tulisan ini adalah, aku sangat
terbius dengan kisah cintanya Cinta dan Rangga. Aku memaklumi jika pendapat
tiap orang berbeda. Tapi, AADC ini berhasil membuatku senyam-senyum sendiri. AADC
seperti memberikan fenomena jalinan kasih anak SMA tahun 2000an. Meski ketika
itu aku masih kecil, tapi aku merasakan getarannya.
Bahkan selintas lalu aku ingin memiliki kisah cinta yang seperti
ini. Tapi, dengan ending yang berbeda. Karena jika endingnya sama, maka aku
harus menunggu 14 tahun mengetahui bagaimana akhirnya kisah cintaku berakhir
atau baru akan dimulai kembali. Intinya, aku memberikan penilain yang tinggi
pada film ini. Hingga esok paginya, ketika di ruangan kuliah, aku bahkan masih
memikirkan dan terbayang-bayang tentang Cinta dan Rangga. Oh tidak, aku lebih
banyak membayangkan Cinta.
Penulis: Jurnalis Magang

Komentar
Posting Komentar