Kebijaksanaan Untuk Hidup yang Lebih Panjang
Judul Film :
David Attenborough: A Life On Our Planet
Pemeran : David Attenborough
Genre : Dokumenter
Durasi : 1 jam 23 menit
Sutradara : Allastair Fothergill,
Jonnie Hughes, Keith Scholey
Produser : Jonnie Hughes
Tanggal Rilis : 4 Oktober 2020 (Netflix)
JOURNALISTMAGANG – “If
we take care of nature, nature will take care of us”, ”we’ve come this
far because we are the smartest creatures that have ever lived. But, to
continue, we require more than intelligent. We require wisdom.” Setidaknya
dua kalimat itu meninggalkan bekas dan kesan yang berbeda dalam benak saya.
Meskipun sebenarnya, seluruh pernyataan David harus benar-benar diresapi.
Dokumenter ini adalah
pernyataan kesaksian David Attenborough, pria berumur 93 tahun yang telah
menjelajahi tempat-tempat liar di dunia. David adalah seorang penyiar dan
sejarawan alam asal Inggris. Ia telah berkarier selama hampir seluruh hidupnya
untuk mengeksplorasi alam. Mungkin karyanya sebagai narrator dalam Blue Planet
dan Life on Earth tidak akan mudah untuk dilupakan.
David Attenborough: A
Life On Our Planet menyampaikan kepada kita tentang bagaimana perencanaan
buruk dan kesalahan manusia akan alam sedang berlangsung setiap hari, nyaris
tanpa diketahui. Proses pembentukan seluruh spesies yang ada di dunia saat ini
berlangsung selama milyaran tahun. Setiap akhir dari masanya, lahir
spesies-spesies yang unik, sulit dan nyaris sempurna. Namun, selama masa
pembentukannya, kepunahan massal terjadi dalam kurun waktu setiap sekitar 100
juta tahun.
Dalam sejarah
kehidupannya yang berumur empat milyar tahun, telah terjadi lima kali kepunahan
massal. Kepunahan dinasurus adalah yang terakhir, saat 75% dari seluruh spesies
yang ada di bumi punah. Lalu 65 juta tahun setelah kepunahan dinasaurus,
sampailah pada kehidupan yang kita jalani saat ini. Dimana manusia melakukan
kesalahan-kesalahan, hari demi hari, nyaris tanpa diketahui dan disadari.
Manusia saat ini merubah keanekaragaman hayati menjadi monokultur. Padahal, setiap spesies di bumi saling berkaitan, saling membutuhkan dan saling bergantung untuk kelangsungan hidup dan stabilitas bumi. Pada tahun 1937, hutan belantara masih 66% dari seluruh total daratan saat populasi manusia sebesar 2,3 milyar. Hingga tahun 2020, hanya tersisa 35% dengan populasi manusia sebesar 7,8 milyar.
Tanpa disadari, manusia
saat ini memicu bencana dan kepunahan. Dulu, dibutuhkan satu juta tahun
aktivitas vulkanik untuk mengeruk cukup banyak karbon dari dalam bumi untuk
memicu bencana. Bayangkan yang dilakukan industry saat ini. Pembakaran
organisme hidup seperti batu bara dan minyak melepaskan karbon dioksida ke
atmosfer. Proses yang terus dilakukan tersebut dalam jumlah besar dan banyak
berhasil membuat bumi lebih panas dan memicu bencana dalam kurun waktu lebih
cepat 200 tahun. Dua kali lipat lebih mendatangkan bencana.
Dokumenter ini tidak
dibuat hanya untuk menakut-nakuti tanpa solusi. David selain memberikan
pernyataannya tentang kerusakan alam yang sedang dan terus terjadi, ia juga
memberikan solusi bagaimana cara manusia menjalani hidup selaras dan bersama
dengan alam, bukan melawannya. Ia memberikan analogi manusia zaman dahulu yang
berburu dan mengambil sesuai dengan kebutuhannya, sebagaimana manusia saat ini
harus memperlakukan hal itu pada alam.
Meski, ada dua kutub
polemik yang menjadi pernyataan besar bagi saya. Yaitu adanya covid-19 adalah
langkah alam untuk mengurangi populasi manusia, sehingga alam menjadi tumbuh
dan mampu memberikan keseimbangan. Namun, hal itu dipukul telak oleh UU Omnibus
Law yang berdampak pada pembukaan dan perambahan lahan baru. Artinya, alam akan
kembali harus berjuang untuk memberikan keseimbangannya.
Bagi saya, prinsip kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita tidak bisa ditawar menawar. Manusia adalah makhluk yang paling cerdas di bumi. Namun, kecerdasan jika tidak dibarengi kebijaksanaan maka akan melahirkan bencana. Seperti alam, hewan dan tumbuhan yang sedang menghadapi bencana akibat perbuatan manusia. Maka, yang kita butuhkan tidak cukup hanya kecerdasan, butuh kebijaksanaan. Karena tidak ada tempat tinggal lain, selain bumi yang kita duduki saat ini.
Penulis: Journalist Magang

Komentar
Posting Komentar