Sex Education itu Penting, Loh!

Beda Cara Netflix Mengedukasi 

                                                        Dok.Net
Judul Film             : Sex Education
Genre                     : Drama-Komedi, Romance
Rilis                        : 11 Januari 2019
Production             : Netflix 
Penulis Naskah      : Laurie Nunn
Sutradara               : Ben Taylor
Pemeran Utama    : Asa Butterfield (Otis), Emma Mackey (Maevey), Ncuti Gatwa (Eric)

           “So, it’s Rom-com night. I’m thinking 1980’s Julia Roberts or earlier noughties Kate Hudson. What’s you preference?” Jean said.
            “Mum, what makes a good therapist? Umm, just curious.” Otis.
           “Well, I guess some therapists get into it for the wrong reasons. They do it for money or status. They think of it as a career rather than a vacation.” Otis’s lovely mom.
            “But it, it’s just a job.” Otis.
            “Sure. A job where one wrong word could trigger a nearvous breakdown, resulting in decades of emotional damages. A good therapist you know, a ‘good’ therapist, I guess understand the weight of that responsibility.” Jean.
            “That sound intense.” Otis
            “Well, it’s a fine balance, listening to people without inserting yourself into their reality.” Jean
            “So, it’s not about you.” Otis
            “Mm, exactly. And more importantly, Roberts or Hudson?” Jean asks.
            “Um, Roberts.” Otis
Don’t Judge the movie by it’s title, adalah pepatah yang mungkin cocok diberikan untuk serial yang diproduksi oleh Netflix kali ini. Serial ini merupakan Tv serial yang berjumlah delapan episode dengan durasi kurang lebih 50 menit per episodenya.
         Jangan salah menilai soal serial ini karena judulnya saja, orang-orang akan mengira dalam serial ini akan banyak penjelasan dari dokter atau sexologist sehingga membangun reaksi membosankan, ternyata sebaliknya. Sex Education secara umum menceritakan tentang remaja, bagaimana perkembangan remaja Ingris pada masa pertengahan sampai akhir masa pubertas.
         Otis, putra seorang janda sexologist diumurnya yang menginjak enam belas tahun belum pernah mengalami masturbasi sekalipun. Alasannya, karena Otis mengalami trauma saat kecil, ketika melihat ayah kandungnya berselingkuh dengan pasien. Fyi, di Inggris dengan umur Otis yang sudah enam belas tahun, akan menjadi sebuah aib besar jika ia belum pernah masturbasi, dengan kata lain masih perjaka. Namun disinilah yang membuat film ini menjadi menarik. Otis dengan ‘tak’ berpengalamannya dalam hal itu, malah membuka klinik terapi sex di sekolah bersama dengan Maeve, seorang wanita dengan gaya yang ‘maskulin’.
         Sex Education bisa menjadi bahan edukasi bagi setiap penontonnya. Serial ini mengedukasikan tentang sex  dengan penyampaian yang tidak membosankan. Alih- alih memilih kisah remaja “High School” agar mudah ditangkap bagi penontonnya di tengah-tengah kondisi masyarakat kita, yang masih menganggap tabu untuk setiap hal yang berbau ‘seks’, padahal Pendidikan seks mesti diberikan, dengan tujuan untuk medidik.
         Dengan setting berlatarkan di Inggris, jadi jangan heran, di film ini akan ada pasangan dengan orientasi lesbian, homoseksual, dan pastinya hubungan normal. Adegan-adegan ‘begituan’ juga tidak dibalut dengan hal yang mesum dan erotis. Dengan menonton serial ini, diharapkan pemikiran khalayak umum semakin terbuka, wawasan semakin bertambahan, bukan sebaliknya.
      Adegan-adegan intim dalam film ini tidak disajikan dengan ‘gamblang’. Alur cerita yang kompleks pun membuat penasaran setelah selesai per-episode untuk dilanjutkan ke episode berikutnya. Meskipun bertemakan Edukasi Seks, tapi sangat tidak berkesan menggurui.
          Meskipun adegan intim tidak disajikan dengan ‘gamblang’, ada satu-dua adegan yang tidak bisa ditoleransi jika ditonton di Indonesia terlebih anak-anak. Kondisi hetero-seksual yang ada di dalam serial ini juga bisa jadi tidak bisa dijadikan pelajaran dan tidak bisa diterima di Indonesia secara ‘umum’, terlebih lagi agama Islam mengharamkan hal itu. Namun patut digaris bawahi, sebagai mahasiswa hal tersebut bisa dijadikan sebagai wawasan dan pengetahuan tambahan. 
            Selebihnya, film ini sangat bagus, dengan ending sangat tidak sesuai harapan. Jadi bagi yang sudah menonton, pasti dengan senang hati akan menunggu tanggal resmi rilisnya season dua. Hal yang tidak boleh luput dari perhatian adalah kedewasaan saat menonton. Film ini cocok ditonton untuk remaja umur 17 tahun keatas untuk standar Indonesia. Menikmati Sex Education adalah cara baru mendapatkan perspektif soal seks dengan cerita yang sangat epic dan pastinya tidak membosankan.

Penulis: Jurnalis Magang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebijaksanaan Untuk Hidup yang Lebih Panjang

Boleh kenalan, gak?

Hidayah AADC Tiba di Awal November