Bahwa Pelecehan Seksual Memang Harus Dilawan

                                                                                                              dok.Net 


Judul Serial     : Sex Education Season 2
Pemeran          : Asa Butterfield (Otis), Gillian Anderson (Jean), Ncuti Gatwa (Eric), Emma Mackey (Maeve), Patricia Allison (Ola), Connor Swindels (Adam), Mimi Keene (Ruby), Aimee Lou Wood (Aimee), Sami Outalbali (Rahim), Kedar Williams (Jackson), Chinenye Ezeudu (Viviene)
Genre              : Drama-Comedy, Romance
Durasi              : 8 Episode (± 50 menit)
Penulis naskah : Laurie Nunn
Sutradara         : Ben Taylor
Production      : Netflix
Tanggal rilis    : 17 Januari 2020

Disclaimer: Tulisan ini berisikan spoiler dan istilah sex yang bertujuan untuk menginformasikan dan mendidik. Sebelum membaca tulisan ini kalian bisa lebih dahulu membaca review Sex Education season 1: journalistmagang.blogspot.com/2019/03/beda-cara-netflix-mengedukasi-dok.html

JOURNALISTMAGANG – Semester baru berjalan dengan atmosfir baru. Seperti yang diketahui pada akhir season satu, Otis yang tidak bisa mengalami masturbasi, perlahan akhirnya menikmati bahkan sampai kecanduan. Maeve bekerja di sebuah restoran fast food, Adam akhirnya masuk ke sekolah militer dan Eric terlihat biasa saja. Season satu yang berakhir dengan ciuman pertama Otis dan Ola berlanjut menjadi sebuah hubungan.


Tanpa adanya Maeve, klinik sex ‘bawah tanah’ yang digandrungi oleh Maeve dan Otis pun tidak berjalan lagi. Beberapa desakan dilakukan oleh Eric, dengan membujuk Otis menjadikan dirinya sebagai pengganti Maeve, berat hati Otis menyetujui. Klinik sex pun berjalan normal.

Suatu hari Maeve melihat ibunya membuntutinya di tempat ia bekerja, ia pun memergoki. Besar sekali kekecewaan Maeve kepada ibunya yang telah meninggalkan ia dulu. Sebuah percakapan bermakna terjadi di antara keduanya yang akhirnya membuat Maeve untuk keukeuh kembali ke sekolah. Dengan ciri khasnya, ia pun membuat sebuah pengumuman menghebohkan yang membuat kepala sekolah harus menerimanya kembali.

Maeve kembali, dan pertemuan dengan Otis pun terjadi. Canggung memang, tapi kebahagiaan terpancar jelas dari raut wajah keduanya, namun tidak ada lagi yang sama antara mereka setelah ciuman itu. Mereka pun sepakat untuk menjalani kembali klinik sex dengan pembagian keuangan lebih besar di pihak Maeve.

Hingga semua cerita akhirnya dimulai, ketika wabah penyakit klamidia - penyakit sex yang hanya tertular melalui hubungan sex - digadang-gadang sedang tersebar di sekolah. Padahal wabah tersebut hanyalah hysteria yang dibesarkan sepihak untuk keuntungan semata, membuat Dewan Yayasan turun tangan meminta kurikulum sex education ditinjau kembali. Wali murid pun protes dan berujung pada sebuah ‘rapat terbuka’ wali murid.

Disinilah Jean, ibu Otis memberikan keyakinan kepada wali murid bahwa itu bukanlah wabah, melainkan hysteria berlebihan – hal yang sama yang dikatakan Otis – membuat ia dilirik oleh ketua Dewan Yayasan. Ia pun ditunjuk untuk meninjau kembali kurikulum sex. Disinilah tensi cerita mulai naik. Klinik sex Otis terancam. Disisi lain, Eric menaruh perhatian lebih kepada anak baru, Rahim. Kisah Eric dan Rahim berujung dilematis dengan dikeluarkannya Adam dari sekolah militer.

Hubungan Otis dan Ola juga menemui beberapa jalan berkerikil. Namun yang paling parah ketika Otis dan Ola akhirnya memutuskan untuk melangkah lebih jauh, yaitu having sex. Di hari yang sama, Maeve mengutarakan perasaanya yang masih suka kepada Otis, begitu pun Otis. Kisah mereka diperparah ketika Ola memutuskan Otis. Dengan pertimbangan tergesa, Otis mengadakan small gathering di rumahnya. Otis mabuk parah, disusul semraut tamu undangan yang hadir di luar perkiraan.

Otis memberikan pengumuman tentang kisahnya dengan Otis, yang dicampakkan begitu saja, dan dengan Maeve yang sama-sama cinta, namun entah karena alasan apa mereka tidak bisa bersama. Sudah kepalang mabuk namanya, Otis dengan seenaknya mengatakan kepada Ola dan Maeve. Maeve pulang, Ola pun sama. Otis melanjutkan mabuknya yang sudah naik, dan berujung di suatu pagi ketika ia terbangun di atas kasur dengan keadaan telanjang bersama Ruby.

Atensi di episode ini sangat menarik, kenapa? Ruby terkenal sebagai sosok wanita yang glamour dengan perkumpulan teman-temannya yang stylish, kaya dan sombong. Namun, Ruby pula yang beruntung membobol keperjakaan Otis. Pagi itu, Ruby dan Otis memastikan apakah mereka mengunakan kondom tadi malam, entah Ruby lupa dimana membuangnya atau memang mereka tidak menggunakannya sama sekali.

Mendengar kabar itu Maeve otomatis merasa kesal. Saat pelajaran berlangsung, Ruby memanggil Otis ke bawah, mengajaknya memastikan tentang kondom tadi malam. Sifat tanggung jawab Otis tercerminkan disini, ketika Otis mau menemani Ruby ke drugstore untuk membeli obat kontrasepsi dan testpack. Otis bahkan sempat mengatakan seperti ini kepada Ruby, “Jika memang nanti kamu benar hamil,” sambil memegang paha Ruby dengan lembut, “aku akan keluar dari sekolah, mencari pekerjaan untuk menghidupi kamu dan anak yang kamu kandung itu.”

Nah, ketika Ruby bersama Otis, banyak perubahan yang terjadi. Ia menjadi mau bercerita sedikit tentang keluarganya, tidak bersikap songong seperti biasanya dan lembut kepada Otis.
Berbeda dengan Jackson yang mengalami cidera tangan saat melatih temannya di Gym. Bukan tanpa alasan, ia masih patah hati karena alasan Maeve yang lebih cinta kepada Otis tapi pada kenyataannya mereka tidak bersama. Ia pun mencoba hobi baru selain renang, yaitu drama. Disini ia dibantu oleh Viv, yang pada akhirnya membuat mereka berteman.

Bahkan sebuah pelajaran besar dari Sex Education Season dua ini diberikan oleh Aimee. Hari itu adalah hari ulang tahunnya Maeve, Aimee pun berangkat ke sekolah membawa kue buatannya menaiki bus. Di dalam bus, Aimee menjadi korban pelecehan seksual. Seorang pria dengan sengaja masturbasi di belakangnya dan ‘menyemprotkan’ sperma di celana jins favorit Aimee. Mengetahui itu, jelas awalnya ia takut. Ia langsung turun dari bus dan jalan kaki ke sekolah.

Saat bertemu dengan Maeve, ia mengucapkan selamat dan memberikan kue. Maeve sempat bertanya kepada Aimee, apa yang terjadi padanya, karena ekspresi Aimee seperti takut dan gelisah. Ia bercerita bahwa ada seorang pria yang ‘melakukan’ hal tersebut padanya. Disinilah Maeve selaku wanita yang ‘melahap buku’ feminisme, mendorong Aimee untuk melapor kepada polisi, bahwa itu bukanlah hal yang biasa dan harus dilawan.

Meski sempat terlihat biasa saja, namun lambat laun Aimee merasakan akibat dari kejadian itu. Ia takut menaiki bus, merasa was-was dimanpun, bahkan ketika disentuh oleh pacarnya sendiri ia merasa takut sekali. Hal tersebut merupakan pengaruh karena menjadi korban pelecehan seksual. Aimee menjalani kehidupan seperti itu cukup lama, sampai pada akhirnya ia mau speak up tentang itu kepada temannya.

Kejadian Aimee memberikan pelajaran bahwa korban pelecehan seksual bukan malah diam, memendam hal itu sendirian. Korban harus melapor, dan berani bercerita kepada orang terdekat tentang apa yang ia alami dan rasakan. Sebab, korban pelecehan seksual harus memiliki pendampingan dan dukungan agar mampu menjalani hidup yang normal kembali. Aimee akhirnya didukung oleh kelompok dadakan yang terkumpul akibat kesalahpahaman, Maeve, Ola, Viv, Olivia, dan Lily membantunya kembali pulih seperti semula.

Sex Education season dua ini agaknya memberikan muatan edukatif yang lebih besar daripada pendahulunya. Tiap episode memberikan konflik dan pertanyaan tersendiri, dan dijawab entah di episode yang sama atau harus menanti jawaban dari episode lainnya. Konflik yang diberikan memang membuat atensi naik, perasaan gregetan, dan terkadang kecewa. Tidak hanya soal sex saja, tentang keluarga, tentang sahabat, tentang pasangan pun menjadi poin edukatif dan informatif pada serial ini.

Meski, lagi-lagi kita tidak bisa melihat Otis dan Maeve berakhir dengan bahagia. Selalu saja ada momen yang merusak. Jika season satu ciuman Ola, kini ada keegoisan Isaac yang membuat Otis dan Maeve menjadi alasan lagi untuk menunggu kapan rilisnya season ketiga. Serial ini sangat cocok menjadi suatu hiburan informatif dan edukatif tentang sex, melihat kondisi sex education di Indonesia yang terlihat masih sangat tabu.

Penulis: Journalist Magang 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebijaksanaan Untuk Hidup yang Lebih Panjang

Boleh kenalan, gak?

Hidayah AADC Tiba di Awal November