Tak Jauh Beda Dinamika Kelulusan Kampus India dan Kita

                                                                                   Dok.Net

Judul Film       : Chhichhore
Pemeran          : Sushant Singh Rajput (Anni), Shradda Kapoor (Maya), Varun Sharma (Sexa), Thahir Raj Bhasin (Derek), Naveen Polishety (Acid), Tushar Pandey (Mummy), Sharsh Kumar Sukla (Bevda), Mohammad Samad (Raghav), Prateik Babbar (Raggie)
Genre              : Komedi, Drama
Durasi              : 2 jam 23 menit
Sutradara         : Nitesh Tiwari
Produser          : Sajid Nadiadwala
Tanggal Rilis   : 6 September 2019

Nak, hasil ujianmu tidak menentukan kamu pecundang atau bukan. Yang pasti seberapa besar usahamu. Dan kau sudah berusaha semampumu, benar?” Anniputh Pathak

JOURNALISTMAGANG – Raghay begitu gugup dengan hasil pengumuman penerimaan dari kampus. Ia menelepon dua sahabatnya untuk menenangkan diri. Namun, seperti malam-malam sebelumnya, kecemasan yang sama selalu menyelimuti. Sepulangnya dari kantor, Anni langsung menyuruh pembantu untuk membuatkan makan malam untuk Raghav. Anni, ayahanda Raghav memberikan semangat kepada anaknya untuk tidak cemas. Kecemasan itu malah akan membuat Anni menjadi sedih.

Hari pengumuman pun tiba. Sahabat Raghav melihat hasil pengumuman. “Better Luck Next Time”, terpampang dengan jelas di layar laptop. Dengan ketegangan yang begitu menggebu-gebu, Raghav memasukkan nomor pendafaran dan passwordnya. Kalimat yang sama terpampang di laptop. Kini kecemasannya benar-benar nyata. Ia menganggap dirinya sendiri pecundang. Ayahnya duduk di peringkat ratusan se-India, begitupun ibunya. Kini Raghav bahkan tidak diterima di kampus favorit yang diduduki ayah dan ibunya dulu.

Ia merasa begitu malu. Berat hati akan menerima sebutan ‘Pecundang’ sepanjang hidupnya. Ketika itu, posisinya tepat di sisi balkon. Sedangkan sahabatnya-tepat berada di kusen pintu-terus memberikan semangat bahwa hal yang ia pikirkan tidak akan terjadi. Sudah kepalang tanggung, ia terus membenarkan asumsinya; bahwa orang-orang akan memanggilnya looser, ia akan menanggung malu sepanjang hidup, dan ia tidak mampu menyamai kedua orang tua. Raghav memilih jalan pintas, terjun bebas dari balkon.

Campur aduk. Begitu perasaan dan pikiran setelah aku menonton film Bollywod ini. Ironi dan kenyataan yang kita rasakan soal pendafataran kuliah, benar-benar digambarkan dengan jelas. Kenyataannya, di tingkat 12 kita ‘mati-matian’ berjuang untuk dua hal, dan keduanya merupakan kelulusan. Yang satu kelulusan untuk keluar, satunya lagi kelulusan untuk masuk. Lupakan soal kelulusan dari SMA/sederajat, karena pemerintah kini sudah mengahapuskan Ujian Nasional dan memberikan tanggung jawab kepada sekolah.

Kelulusan untuk masuk kampus; favorit maupun tidak, selalu saja membutuhkan usaha yang lebih. Kita harus mengikuti Bimbingan Belajar (Bimbel) yang bayarannya waww, alih-alih jaminan uang kembali jika tidak lulus. Waktu liburan, santai, jadwal bermain game bersama teman menjadi pertaruhan. Acap kali urusan bimbel diatas segalanya. Tidak hanya bimbel yang diikuti secara mandiri, sekolah pun membuat bimbel untuk mempermudah menjawab soal ketika ujian akhir dibarengi dengan persiapan masuk kampus.

Ditengah-tengah kenyataan yang kita jalani, disini pula sebuah sistem ironi dimulai. Dengan kekecewaan yang besar Raghav memaki dirinya bahwa ia telah banyak mengorbanan waktu untuk menyiapkan masuk kampus, namun tidak lulus. Sedangkan teman kelasnya yang malas, malah sering bermain, dialah yang diterima di kampus. Agaknya aku mengalami pengalaman yang sama dengan Raghav, setidaknya kita semua. Kita mengerahkan usaha maksimal untuk lulus di kampus yang kita inginkan, sedangkan orang lain yang tidak melakukan demikian mendapatkan hal itu.

Raghav mengalami pendarahan dan pembekakan di bagian otak. Ia tak sadarkan diri. Anni berusaha melakukan yang terbaik, meski ditentang Maya-mantan istrinya. Anni mengalami bagaimana ia dulu disebut pecundang bersama teman-teman lainnya di H4, asrama kampusnya. Tanpa sengaja ia ingat sesuatu, dan memutuskan untuk bercerita kepada anaknya bagaimana ia berjuang melepaskan julukan “Loosers”. Reuni konyol pun terjadi. Sexa, Derek, Acid, Mummy, dan Bevda memutuskan libur sementara dari pekerjaan dan memberikan semangat kepada Raghav untuk bertahan hidup.

Chhichhore memberikan sebuah pandangan bahwa tidak lulus di kampus bukan akhir dari hidup. Bahwa persahabatan, meski konyol, bodoh, tapi jika diisi dengan kualitas maka ia layak disebut keluarga. Bahwa suatu hal yang dipandang buruk, bukan berarti buruk. Adakalanya kita harus terjun, benar-benar melihat dan merasakan dengan seluruh panca indera, membuktikan keburukan tersebut. Anni dan lainnya membuktikan hal itu. Bahwa H4 tidak buruk, meski menyandang julukan Pecundang sejak lama, mereka berhasil melepasnya.

Karena ada dua pilihan; mempertahankan julukan atau berusaha melepaskan. Agaknya hal itu diajarkan dengan baik di film Chhichhore. Seperti biasa, sinematografi khas India yang dramatis dan acap kali berlebihan pasti ada. Namun, berhasil ditutup dengan adegan dari tiap tokoh. Satu hal yang absen, tidak ada lagi scene-scene menyanyi sambil menari ala-ala India. Disini musik hanya diputar dengan adegan berjalan seperti biasa.

Film ini sangat menarik, terlebih memvisualkan kenyataan dan ironi bagaimana dinamika masuk kampus, persahabatan, dan andil motivasi orangtua untuk membangun semangat anak. Film ini sangat cocok ditonton untuk segala umur, bahkan aku menyarankan sekali untuk anak yang duduk di kelas 12 menonton film ini. Akhirnya, semoga film ini bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi.

Kita terlalu memikirkan menang, kalah, sukses, dan gagal hingga kita lupa cara menjalani hidup. Hal terpenting dari hidup adalah hidup itu sendiri.” Raghav Pathak

Penulis: Journalist Magang 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebijaksanaan Untuk Hidup yang Lebih Panjang

Boleh kenalan, gak?

Hidayah AADC Tiba di Awal November