Foto: Journalist Magang
Judul Buku : Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela
Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Alih Bahasa : Widya Kirana
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Cetakan kedua puluh lima: April 2018
Tebal Buku : 272 hlm
JOURNALISTMAGANG – Totto-chan dikeluarkan dari sekolah karena nakal.
Lantas ibunya menghadap wali kelas, mendengar langsung penjelasan tentang
bagaimana ulah yang dilakukan anaknya. Selama kelas berlangsung, Totto-chan
asik sendiri dengan laci mejanya, sibuk buka-tutup lantas mengeluarkan atau
mengisi barang ke dalamnya tanpa memungkiri decit suara yang mengganggu suasana
kelas. Wali kelas geram.
Totto-chan
sering menghadap ke jendela, menunggu. Awalnya wali kelas membiarkan saja
perbuatan itu selama tidak mengganggu anak-anak yang lain. Yang terjadi
kemudian adalah ia memanggil pengamen jalanan
ke depan jendela, lalu menyoraki teman-temannya untuk menonton
pertujukan kaget tersebut. Jelas wali kelas geram. Banyak lagi kenakalan yang
dilakukan oleh Totto-chan yang tidak bisa ditelorir oleh wali kelas, setidaknya
untuknya dan anak-anak kelas lainnya.
Lalu
Totto-chan dikeluarkan dari sekolah. Keesokan harinya ia diantar oleh ibunya ke
sekolah yang baru, perjalanan menggunakan kereta. Awalnya Totto-chan merasa
heran dengan sekolah barunya. Pagarnya terdiri dari dua batang pohon sebagai
gerbang dan bangunan sekolah berupa gerbong kereta yang disulap menjadi ruang
kelas. Totto-chan terpesona dan jatuh cinta pada sekolah barunya. Ia lalu
menghadap Kepala Sekolah untuk melihat apakah ia layak diterima. Semenjak itu,
Totto-chan selalu bersemangat sekolah.
Sebenarnya
secara mendalam buku ini berisi tentang pendidikan terhadap anak, baik orang
tua maupun pendidikan di sekolah. Tidak seperti yang saya bayangkan, pendidikan
yang diterapkan di Tomoe benar-benar impian setiap anak di Indonesia,
sepertinya. Tidak ada roster yang seragam di sekolah Tomoe, setiap anak bebas
memilih ingin mempelajari apa hari itu dan menjadwalkannya. Maka, jika
dibayangkan, dalam kelas yang hanya berisi Sembilan siswa dengan tiap siswa
memilih mata pelajaran yang diminatinya sendiri.
Cara
didikan yang dilakukan oleh Kepala sekolah, Sosaku Kobayashi benar-benar
cemerlang. Ia adalah seorang pendidik yang menjalaninya dengan passion dan
cinta. Ketika Totto-chan menghadap kepala sekolah, ia diminta untuk bercerita
tentang apa yang dia suka. Totto-chan yang memang rajin bicara, menghabiskan
waktu dua jam bercerita sampai ia sendiri kehabisan topik untuk diceritakan.
Dan kepala sekolah dengan antusias mendengarkan seluruh cerita tersebut. Ini
menunjukkan bahwa Sosaku Kobayashi benar-benar menaruh minat dan keseriusan
dalam mendidik anak.
Tomoe
juga sekolah inklusif. Anak dengan polio, cacat, dan sebagainya juga sekolah
disini. Keseluruhan siswa tidak banyak memang, hanya 50 siswa, namun pengalaman
yang dirasakan oleh setiap siswa berbekas hingga ini. Pembelajaran disini tidak
membosankan, di siang hari siswa diajak jalan-jalan oleh guru ke kuil atau
berkebun. Tanpa sadar, siswa sedang mempelajari rumpun ilmu sejarah dana lam. Agenda
makan siang mendidik siswa untuk terbiasa makan makanan yang sehat dan
berbicara di depan anak-anak lain melatih mereka untuk berani dan mengormati.
Tomoe
berdiri ketika Perang Dunia II di Jepang. Sekolah ini benar-benar adanya.
Tetsuko atau Totto-chan sendiri yang menulis buku ini, mengingat betapa sekolah
di Tomoe dan didikan Sosaku Kobayashi berbekas di dirinya. Tidak semata
pendidikan di sekolah, buku ini juga memperlihatkan tentang bagaimana ibu
mendidik anak. Totto-chan tidak tau bahwa ia dikeluarkan dari sekolahnya yang
pertama. Ia baru mengetahui hal itu ketika ulang tahunnya yang ke-20. Bayangkan
jika ketika dikeluarkan Totto-chan dimarahi, diberitahu bahwa ia nakal, mungkin
Totto-chan tidak terbentuk sebagaimana yang ia alami sekarang.
Meskipun
selama membaca saya merasakan kebosanan, mungkin karena cerita disusun sesuai
dengan momentum, tidak berdasarkan alur panjang yang disusun rapi dari awal
hingga akhir. Meski kesan bosan bersarang ketika membaca, kesan haru
menyelimuti ketika selesai membaca. Di ujung kita diberitahu bagaimana akhirnya
Tomoe terbakar, kemudian Sosaku Kobayashi tidak sempat lagi membangun sekolah
impiannya sebelum ia mati. Juga riwayat siswa teman dekat Totto-chan yang dulu
sekolah di Tomoe.
Buku
ini cocok untuk dibaca oleh segala umur. Penulis menyarankan buku ini dibaca
oleh semua tenaga pendidik, baik guru, orang tua, pegawai pengurus pendidikan,
mahasiswa pendidikan, dan setiap orang secara umum. Mengingat buku ini menjadi
buku rujukan dalam mendidik di Jepang. Buku ini mencontohkan bagaimana
menghadapi anak kecil, mendidiknya, memahaminya. Semoga selepas membaca ini,
setiap orang mampu mendidik dengan baik, paling tidak anaknya sendiri.
Penulis: Journalist Magang
|
Komentar
Posting Komentar