Siap Hidup dan Menjalaninya dengan Penuh Kesadaran
Nama Film : Soul
Pengisi Suara : Jamie Fox, Tina Fey
Sutradara : Pete Docter
Produser : Pete Docter, Dana Leigh
Murray
Produksi : Pixar Animation
Studios dan Walt Disnep Animation Studios
Tanggal Rilis : 25 Desember 2020
JOURNALISTMAGANG – Seorang guru musik, Joe Gardner (Jamie Fox) mendapatkan kesempatan yang
paling diimpikannya selama hidup. Di hari yang sama ia pun mendapatkan
kepastiaan pekerjaan: menjadi guru tetap di sekolah dengan jaminan kesehatan,
asuransi dan pensiun. Jelas sekali, Ibunya meminta dengan keras untuk memilih
profesi guru.
Saat yang paling dinantikannya itu, menampilkan Jazz bersama Kuartet
Dorothea Williams, Joe harus bernegosiasi dengan kematian. Ia harus menghadapi
22 (Tina Fey), sebuah jiwa yang dalam kurun waktu berabad belum pernah
mendapatkan “api” untuk hidup. Joe dan 22 bekerja sama, sampai akhirnya mereka
mengerti; bagaimana menjalani hidup bagi Joe, bagaimana siap menjalani hidup bagi
22.
Film animasi garapan Pixar ini bisa di-streaming melalui layanan
aplikai Video on Demand (VoD) Disney+ Hotstar. Film ini seperti
senada dengan salah satu video yang saya tonton di kanal YouTube
beberapa waktu lalu tentang mindfulness. Joe menganggap tujuan hidupnya
adalah menjadi musisi Jazz. Ia semakin kekeh soal ini saat menjadi mentor di The
Great Before (Dunia Sebelum).
Oiya, Joe sangat panik saat menyadari dirinya sudah berada di The
Great After, jembatan penyeberangan menuju kematian. Ia berusaha berlari
dari itu. Seakan menggambarkan bagaimana kita tidak bisa lari dari kematian.
Jatuh ke jurang dan berhasil sampai di Dunia Sebelum, Joe akhirnya belajar
bagaimana jiwa-jiwa manusia dipersiapkan sebelum siap dilepaskan ke bumi.
Jiwa-jiwa itu diberikan kepribadian-kepribadian dan “Api”.
Sebagai muslim, saya menerima teori ini. Kita memahami bahwa ruh manusia
ditiupkan ke dalam janin saat sudah berusia empat bulan. Dan sebelum itu, ruh
diajarkan tentang siapa tuhan dan diberi tahu bagaimana hidupnya. Di Dunia
Sebelum dapat diibaratkan ketika ruh belum ditiupkan ke dalam janin. Jiwa-jiwa
ini diberikan kepribadian dan api untuk hidup. Setelah lencananya penuh, ia
siap diterjunkan ke bumi. Api ini menjadi pertanyaan besar bagi Joe, 22 bahkan
saya sendiri.
22 adalah sebuah jiwa yang sudah berabad belum menemukan apinya. Ia
bahkan sudah dibimbing oleh mentor seperti Mahatman Gandhi, Abraham Lincoln,
Bunda Teresa dan tokoh-tokoh besar dunia lainnya, namun semuanya gagal. Joe dan
22 sama-sama keliru mengenai makna api. Mereka memaknainya sebagai tujuan
hidup. Saat seseorang memenuhi lencana terkahirnya dengan bermain gitar
misalkan, bukan berarti tujuan hidupnya adalah menjadi gitaris.
Mungkin kita pun berpikir demikian akan hidup. Apa sebenarnya tujuan
hidup? Apa yang harus diraih? Kedua pertanyaan inilah yang luput dan keliru
bagi Joe dan 22. Bahkan bagi manusia yang kini jiwanya telah berada di bumi.
“Api” bukanlah tujuan hidup. Melainkan kesiapan menjalani kehidupan. Dan
yang harus diraih dalam hidup adalah menjadi hidup itu sendiri. Kedua hal ini
diajarkan melalui interaksi Joe dan 22. Bahwa bagaimana hidup dapat dinikmati
setiap detiknya. Bahkan sebuah tarikan nafas, semilir angin yang menggerakkan
daun dan daun kering yang layu dan jatuh ke bumi harus disadari. Bagaimana kita
menikmati dan menjalani hidup dengan penuh kesadaran setiap detiknya. Agaknya
demikian.
Soul memberikan perbedaan yang menarik antara hobi dan obsesi. Keduanya sama-sama masuk ke dalam zona. Namun, saat itu adalah hobi, jasmani dan rohani masih saling terkoneksi di dalam zona. Sedangkan obsesi, jasmani telah terputus koneksi dengan rohani. Ini yang menyebabkan stres dan depresi akibat tidak mengimbangi kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
Mungkin ada beberapa pelajaran hidup lain dari film animasi satu ini.
Tentang bagaimana berinteraksi, memilih topik obrolan, mengejar mimpi dan
sebagainya. Film ini layak sekali untuk ditonton, karena selain menghibur, film
ini memberikan pelajaran tentang hidup secara bersamaan. Film ini pun layak
untuk ditonton oleh semua umur. Oke, selamat menonton!
Penulis: Journalist Magang

Komentar
Posting Komentar